Tipikal Investor Pasar Modal Indonesia
REKAM KILAS (I) :
KONGKOW-KONGKOW PIALANG EFEK Juli 2008
“Tipikal Investor Pasar Modal Indonesia”
Maha Longue adalah sebuah café yang sebelumnya terkenal dengan sebutan Bengkel café, sudah ternama di kawasan Sudirman Central Distric Bussiness (SCBD). Sebagaimana umumnya, suasana Maha Longue Café di-manage secara sophisticated, tataan interiornya yang nyaman dan relax berpijarkan lampu agak temaram tapi masih jelas tampak saling melihat, romantis. Aneka jenis kursi-kursi lembut dan romantis,ditambah dengan alunan musik dari perangkat sound system mendayu-dayu mengundang rasa untuk menghempas kepenatan rutinitas di dalamnya. Sepintas pula kita akan disuguhi pertunjukan lives music show, soalnya diatas panggung mini tampak berjejer perangkat alat music yang siap untuk dimainkan. Demikianlah suasana yang terekam di café sore menjelang malam mengundang hasrat untuk bersantai ria bagi pengunjungnya.
Disitulah pada hari Jumat sore 25 Juli 2008 Ikatan Pialang Efek Indonesia (IPEI) yang dikoordinir oleh Komite Pengembangan Organisasi (KPO), menyelenggarakan acara Kongkow-kongkow Pialang Efek perdana, dengan tema “Tipikal Investor Pasar Modal Indonesia”
Acara Kongkow-kongkow Pialang Efek (KPI) ini merupakan acara yang dikemas secara “santai tapi serius relax tapi focus”. Suatu ajang profesional pialang efek dan pelaku pasar modal lainnya sebagai sarana atau wadah dalam mencermati dan membahas satu tema yang relefan dan kontekstual dengan dinamika industri pasar modal. Karena konsepnya “santai tapi serius relax tapi focus maka tempat yang dipilih adalah seperti Maha Longue itu.
Substansi Tema :
Tanpa keberadaan investor pasar modal pasti tidak ada, karena adanya pasar modal pada dasarnya adalah untuk memfasilitasi keberadaan (kepentingan) mereka, dari satu sisi. Karena itu, pengenalan tipikal investor sangat perlu bagi pialang. Sedikit banyak mengenali mereka kendati hanya bersfiat kategoris adalah suatu kebutuhan profesi di satu pihak dan materi reflektif tertentu bagi pihak investor.
Karakter subyektif, pola, kebiasaan-kebiasaan baik positif dan negatif mereka yang beraneka ragam ini perlu mendapat perhatian demi kesinambungan hubungan yang lebih akrab, objektif sekaligus berada dalam koridor yang tepat.
Segala hal dan setiap komunitas ada tipikalnya. Pengenalan tipikal tentang sangat penting, dikatakan : tak kenal maka tak saying, mengandung makna bahwa dengan semakin mengenalinya kita atas sesuatu maka semakim memudahkan untuk menggarap atau menjalankan tugas terhadap sesuatu itu. Inilah dasar filosofis dari tema pada acara KPI ini.
***
A l u r :
Mungkin bukan hanya karena sebagai perhelatan perdana tetapi sinyalemen kemacetan sore akhir minggu tampak membuat acara mundur setengah jam-an dari direncanakan pkl.18.00.
Pembicara pertama datang pak Soeratman. Beliau adalah seorang konsultan dan sekaligus sebagai (“mewakili”) pebicara pada acara ini. Kemudian Pak Toni Kisdhihartono, sales senior dari PT.Danareksa dan menyusul Pak Gonthor Kepala Bagian Kerja Sama International dan Hubungan Masayarakat (KSI & Humas) dari Bapepam & LK, yang ternyata ekspresi dari apresiasinya atas acara KPI ini sungguh luar biasa - beliau membawa rekan-rekan baik dari kalangan Bapepam (diantaranya bapak Indra Surya, Herry Darmawan, dll) maupun rekan-rekan di luarnya. Sementara Dandossi Matram, datang agak terlambat setangah jam, karena ada rapat di kantornya dalam kapasitas beliau sebagai Komisaris di PT.Kalbe Farma.
Para peserta mulai mengisi bangku-bangku dan kemudian M.Syurbainy Nasution (pialang Henan Putihrai) selaku Ketua Panitia membuka acara dengan sedikit memaparkan latar belakang dan tujuan seputar acara ini Kongkow-kongkow.
Tak lama dan tanpa formalitas seremonial langsung saja alur kongkow-kongkow diserahkan kepada Faris Al Baybars (pialang Kim Eng Securities) untuk memandu jalannya acara. Di hadapan peserta yang dtargetkan 40 orang tetapi ternyata hadir 80 an orang, Faris mencoba mengarahkan suasana diskusi profesionalisme di café itu.
Peserta terdiri dari para profesional pialang efek ; floor/remote trader, sales, dealer, rekan-rekan dari Bapepam, para wartawan dan ada juga sejumlah kalangan investor.
Sedianya acara masih harus dibuka-sambut oleh sang Ketua Umum IPEI bapak Saidu Solihin, tetapi karena sesuatu hal beliu pun agak terlembat sampainya ditempat.
Paparan Pembicara (Pak Soeratman)
Dalam usianya yang tampak lebih sepuh dibanding rata-rata para hadirin, beliau menunjukkan semangat dan kepercayaan diri yang tinggi. Pak Soeratman dipersilakan mengawali menyampaikan paparan. Diyakini beliau cukup berpengalaman dan dikenal luas, terbukit pak pak Toni, pak Alamsyah (Direktur Sari Jaya Permana), Maya Faridatul’aini (Direktur E-Trading/panitia) Leo Samosir, wartawan Metro TV dll tampaknya tidak asing atas pak Soretmann.
Melalu slide via infocus pak Soeratman seolah-olah sedang memberikan kuliah penting yang boleh jadi tidak terdapat di bangku perguruan formal. Menurutnya, kondisi Pasar Saham sekarang semakin penuh dengan tantangan. Stock market adalah arena yang penuh dengan dinamika serta potensi yang cukup menarik, apabila seseorang dengan sikap mental yang kuat serta faktor-faktor pendukung yang membuatnya akan dapat menguasai dunia investasi ini. Jika tidak, justru seseorang bisa menjadi korban atas ketidakpahamannya terhadap dinamika indekas dan instrumen perdagangan bursa. Disamping tentunya batasan dan kapasitas pengetahuan yang dangkal membuat investor justru menjadi korban dari permainan market.
Kaitannya dengan itu, tidak heran apabila 85 % dari para ”pemain” pemulanya hilang dari peredaran pada tahun-tahun pertama menjadi seorang pemain saham, dan malah 10–20 % diantaranya bangkrut.
Pada dasarnya pasar bursa terkesan hanya diperuntukkan bagi : Para risk taker yang mengejar gain yang tinggi tapi juga bersedia menghadapi resikonya yang tingi. Mereka harus memiliki disiplin yang tinggi serta mempunya kemampuan untuk dapat mengendalikan emosinya dengan baik. Karena itu, seorang investor sejati harus terus mau belajar, sebab tidak akan ada hasil tanpa perjuangan.
Pak Soeratman mengklasifikasikan tipe tipikal investor melalu beberapa perspektif. Berdasarkan subyek pelaku, investor terdiri dari investor institusi dan investor retail. Tentu saja, yang dimaksud dengan investor institusi seperti Perusahaan efek atau Aset Managemen, lembaga/perusahaan-perusahaan keuangan bank dan non bank lainnya yang berinvestasi secara kelembagaan atau atas nama lembaga.
Sementara investor retail adalah masyarakat secara individual, yang berstatus ; Profesional, Karyawan, Mahasiswa, Pensiunan. Diantara mereka ini dapat terdiri dari kategori “terdidik” dan “tidak terdidik” tentang ilmu dan pengetahuan pasar modal.
Berdasarkan pola perdagangannya/permainannya di pasar investor terdiri dari : Momentum, Swing, Day, Intraday, Scalp. Sementara ditinjau berdasarkan Time Horizon, investor terbagi menjadi : investor Jangka Pendek, Jangka Menengah, dan Jangka Panjang
Sesungguhnya, Pak Soeratman menegaskan, bahwa setiap unsur atau pihak terkait dalam entitas investasi hendaknya memiliki tujuan bersama yang sama-sama dalam mencapai manfaat dari permainan bursa ; Broker/ Pialang untung, Investor (Retail) untung. Andaikata investor selalu tidak untung, hal ini tentunya akan menjadi preseden tidak baik. Bahkan sebagaimana yang sering teropini di benak masyarakat bahwa pasar modal bisa dianggap sebagai arena judi. Oleh karena itu, dalam hal ini investor harus memiliki pengatahuan dan pemahaman tentang pasar modal (terdidik).
Kunci Keberhasilan
Menjawab pertanyaan seorang peserta mengenai harapan investor terhadap pialang, pak Soeratman kemudian menjelaskan bahwa, kita semestinya menjadi investor yang mandiri, mereka tidak berlu terlalu tergantung pada pihak lain. Informasi, rekomendasi atau saran-saran hanyalah bersifat masukan sekunder semata, sementara keputusan dan keyakinan adalah atas dasar penilaian rasional dan objekti investor diri. Ini mencirikan dia adalah seroang yang ”terdidik”.
Kunci keberhasilan atau strategi investasi di pasar modal, dapat terhadi jika didahului dengan kerja keras. Jangan justru setelah mengalami kehabisan modal kemudian beranggapan bermain saham adalah pekerjaan yang sukar dan hilang kepercayaan diri atasnya.
Disampingn itu, high return high risk tetap penting dipahami, bandingkan misalnya investasi pada instrumen saham dan deposito. Risiko sebenarnya dapat dikontrol apabila kita memiliki kerangka acuan. Maksimalkan keuntungan jika keputusan kita benar, dan pada sisi lain batasilah kerugian jika kita salah. Cut your loss as soon as possible if you were wrong and let profit run if you right, demikian pak Soeratman berfalsafah.
Kemudian , aspek yang tidak kalah pentingnya adalah kedisiplinan atas formula objektif rasional yang dimiliki secara konsisten. Investasi seharusnya memiliki sentuhan strategi (investasi) sebagai acuan pedoman objektif dalam memenangkan permainan. Secara garis besar strategi terebut meliputi adanya “Perencanaan Portfolio”, memiliki alat dan bahan ”Analisis Investasi dan Ekonomi”, Checklist untuk ”Value Investing”, Checklist untuk ”Short erm Momentum Trading”
Kaitannya dengan pasar selanjutnya pak Soeratman, tidak ada seseorang yang dapat mendikte pasar, dan pada sisi lain pula tidak mungkin keputusan kita selalu benar . Dengan kata lain, dalam kondisi tertentu keadaan pasar dapat saja melawan keputusan kita, yang kondisi dan hasil bisa berbeda dari hasi perkiraan. Tetapi yang pasti, sangat penting untuk mengetahui bagaimana cara berinvestasi serta bagaiamana mengendalikan resiko selaras dengan strategi tadi.
Ada pendapat bahwa terdapat kaitan yang kuat antara pergerakan pasar modal dengan gerakan siklus ekonomi. Namun yang terjadi dalam praktek : Faktor-faktor spekulative menyebabkan pergerakan saham kadang-kadang tidak sejalan dengan pergerakan ekonomi. Saham biasanya bergerak lebih dulu dari ekonomi. Disinilah letaknya arti penting pentingnya mengetahui rumor yang mendahului informasi berita publikatif.
Biasanya dengan adanya gejolak ketidak stabilan tertentu akan ditanggapi dengan reaksi yang berlebihan oleh pasar. Pasar akan bereaksi lebih cepat terhadap sesuatu yang mungkin atau belum tentu terjadi.
Ketika ditanya oleh penanya (pialang dari Henan Putihrai) bagaimana kerangka objektif bagi ”pemain” dan kaitannya dengan kebiasaan umum yang menggunakan anailisa feeling disaat bermain di bursa ? Dalam membeli saham, selanjutnya pak Soeratman memberikan tips, perhatikan : Laporan Keuangan, Volume Transaksi, Harga Saham, dan Berbuatlah berdasarkan objektivitas, dan hindari anilisa berdasarkan Feeling. Kaitannya dengan nasabah (client) seorang pialang, dianjurkan agar apapun keputusan nasabah (investor) dalam memilih saham, jangan cegah mereka untuk jual beli. Idealnya investor-lah yang mengambil keputusan.
(Bersambung)
Disusun oleh :
Komite Pengembangan Organisasi IPEI,
Benas & Maya ;
KONGKOW-KONGKOW PIALANG EFEK Juli 2008
“Tipikal Investor Pasar Modal Indonesia”
Maha Longue adalah sebuah café yang sebelumnya terkenal dengan sebutan Bengkel café, sudah ternama di kawasan Sudirman Central Distric Bussiness (SCBD). Sebagaimana umumnya, suasana Maha Longue Café di-manage secara sophisticated, tataan interiornya yang nyaman dan relax berpijarkan lampu agak temaram tapi masih jelas tampak saling melihat, romantis. Aneka jenis kursi-kursi lembut dan romantis,ditambah dengan alunan musik dari perangkat sound system mendayu-dayu mengundang rasa untuk menghempas kepenatan rutinitas di dalamnya. Sepintas pula kita akan disuguhi pertunjukan lives music show, soalnya diatas panggung mini tampak berjejer perangkat alat music yang siap untuk dimainkan. Demikianlah suasana yang terekam di café sore menjelang malam mengundang hasrat untuk bersantai ria bagi pengunjungnya.
Disitulah pada hari Jumat sore 25 Juli 2008 Ikatan Pialang Efek Indonesia (IPEI) yang dikoordinir oleh Komite Pengembangan Organisasi (KPO), menyelenggarakan acara Kongkow-kongkow Pialang Efek perdana, dengan tema “Tipikal Investor Pasar Modal Indonesia”
Acara Kongkow-kongkow Pialang Efek (KPI) ini merupakan acara yang dikemas secara “santai tapi serius relax tapi focus”. Suatu ajang profesional pialang efek dan pelaku pasar modal lainnya sebagai sarana atau wadah dalam mencermati dan membahas satu tema yang relefan dan kontekstual dengan dinamika industri pasar modal. Karena konsepnya “santai tapi serius relax tapi focus maka tempat yang dipilih adalah seperti Maha Longue itu.
Substansi Tema :
Tanpa keberadaan investor pasar modal pasti tidak ada, karena adanya pasar modal pada dasarnya adalah untuk memfasilitasi keberadaan (kepentingan) mereka, dari satu sisi. Karena itu, pengenalan tipikal investor sangat perlu bagi pialang. Sedikit banyak mengenali mereka kendati hanya bersfiat kategoris adalah suatu kebutuhan profesi di satu pihak dan materi reflektif tertentu bagi pihak investor.
Karakter subyektif, pola, kebiasaan-kebiasaan baik positif dan negatif mereka yang beraneka ragam ini perlu mendapat perhatian demi kesinambungan hubungan yang lebih akrab, objektif sekaligus berada dalam koridor yang tepat.
Segala hal dan setiap komunitas ada tipikalnya. Pengenalan tipikal tentang sangat penting, dikatakan : tak kenal maka tak saying, mengandung makna bahwa dengan semakin mengenalinya kita atas sesuatu maka semakim memudahkan untuk menggarap atau menjalankan tugas terhadap sesuatu itu. Inilah dasar filosofis dari tema pada acara KPI ini.
***
A l u r :
Mungkin bukan hanya karena sebagai perhelatan perdana tetapi sinyalemen kemacetan sore akhir minggu tampak membuat acara mundur setengah jam-an dari direncanakan pkl.18.00.
Pembicara pertama datang pak Soeratman. Beliau adalah seorang konsultan dan sekaligus sebagai (“mewakili”) pebicara pada acara ini. Kemudian Pak Toni Kisdhihartono, sales senior dari PT.Danareksa dan menyusul Pak Gonthor Kepala Bagian Kerja Sama International dan Hubungan Masayarakat (KSI & Humas) dari Bapepam & LK, yang ternyata ekspresi dari apresiasinya atas acara KPI ini sungguh luar biasa - beliau membawa rekan-rekan baik dari kalangan Bapepam (diantaranya bapak Indra Surya, Herry Darmawan, dll) maupun rekan-rekan di luarnya. Sementara Dandossi Matram, datang agak terlambat setangah jam, karena ada rapat di kantornya dalam kapasitas beliau sebagai Komisaris di PT.Kalbe Farma.
Para peserta mulai mengisi bangku-bangku dan kemudian M.Syurbainy Nasution (pialang Henan Putihrai) selaku Ketua Panitia membuka acara dengan sedikit memaparkan latar belakang dan tujuan seputar acara ini Kongkow-kongkow.
Tak lama dan tanpa formalitas seremonial langsung saja alur kongkow-kongkow diserahkan kepada Faris Al Baybars (pialang Kim Eng Securities) untuk memandu jalannya acara. Di hadapan peserta yang dtargetkan 40 orang tetapi ternyata hadir 80 an orang, Faris mencoba mengarahkan suasana diskusi profesionalisme di café itu.
Peserta terdiri dari para profesional pialang efek ; floor/remote trader, sales, dealer, rekan-rekan dari Bapepam, para wartawan dan ada juga sejumlah kalangan investor.
Sedianya acara masih harus dibuka-sambut oleh sang Ketua Umum IPEI bapak Saidu Solihin, tetapi karena sesuatu hal beliu pun agak terlembat sampainya ditempat.
Paparan Pembicara (Pak Soeratman)
Dalam usianya yang tampak lebih sepuh dibanding rata-rata para hadirin, beliau menunjukkan semangat dan kepercayaan diri yang tinggi. Pak Soeratman dipersilakan mengawali menyampaikan paparan. Diyakini beliau cukup berpengalaman dan dikenal luas, terbukit pak pak Toni, pak Alamsyah (Direktur Sari Jaya Permana), Maya Faridatul’aini (Direktur E-Trading/panitia) Leo Samosir, wartawan Metro TV dll tampaknya tidak asing atas pak Soretmann.
Melalu slide via infocus pak Soeratman seolah-olah sedang memberikan kuliah penting yang boleh jadi tidak terdapat di bangku perguruan formal. Menurutnya, kondisi Pasar Saham sekarang semakin penuh dengan tantangan. Stock market adalah arena yang penuh dengan dinamika serta potensi yang cukup menarik, apabila seseorang dengan sikap mental yang kuat serta faktor-faktor pendukung yang membuatnya akan dapat menguasai dunia investasi ini. Jika tidak, justru seseorang bisa menjadi korban atas ketidakpahamannya terhadap dinamika indekas dan instrumen perdagangan bursa. Disamping tentunya batasan dan kapasitas pengetahuan yang dangkal membuat investor justru menjadi korban dari permainan market.
Kaitannya dengan itu, tidak heran apabila 85 % dari para ”pemain” pemulanya hilang dari peredaran pada tahun-tahun pertama menjadi seorang pemain saham, dan malah 10–20 % diantaranya bangkrut.
Pada dasarnya pasar bursa terkesan hanya diperuntukkan bagi : Para risk taker yang mengejar gain yang tinggi tapi juga bersedia menghadapi resikonya yang tingi. Mereka harus memiliki disiplin yang tinggi serta mempunya kemampuan untuk dapat mengendalikan emosinya dengan baik. Karena itu, seorang investor sejati harus terus mau belajar, sebab tidak akan ada hasil tanpa perjuangan.
Pak Soeratman mengklasifikasikan tipe tipikal investor melalu beberapa perspektif. Berdasarkan subyek pelaku, investor terdiri dari investor institusi dan investor retail. Tentu saja, yang dimaksud dengan investor institusi seperti Perusahaan efek atau Aset Managemen, lembaga/perusahaan-perusahaan keuangan bank dan non bank lainnya yang berinvestasi secara kelembagaan atau atas nama lembaga.
Sementara investor retail adalah masyarakat secara individual, yang berstatus ; Profesional, Karyawan, Mahasiswa, Pensiunan. Diantara mereka ini dapat terdiri dari kategori “terdidik” dan “tidak terdidik” tentang ilmu dan pengetahuan pasar modal.
Berdasarkan pola perdagangannya/permainannya di pasar investor terdiri dari : Momentum, Swing, Day, Intraday, Scalp. Sementara ditinjau berdasarkan Time Horizon, investor terbagi menjadi : investor Jangka Pendek, Jangka Menengah, dan Jangka Panjang
Sesungguhnya, Pak Soeratman menegaskan, bahwa setiap unsur atau pihak terkait dalam entitas investasi hendaknya memiliki tujuan bersama yang sama-sama dalam mencapai manfaat dari permainan bursa ; Broker/ Pialang untung, Investor (Retail) untung. Andaikata investor selalu tidak untung, hal ini tentunya akan menjadi preseden tidak baik. Bahkan sebagaimana yang sering teropini di benak masyarakat bahwa pasar modal bisa dianggap sebagai arena judi. Oleh karena itu, dalam hal ini investor harus memiliki pengatahuan dan pemahaman tentang pasar modal (terdidik).
Kunci Keberhasilan
Menjawab pertanyaan seorang peserta mengenai harapan investor terhadap pialang, pak Soeratman kemudian menjelaskan bahwa, kita semestinya menjadi investor yang mandiri, mereka tidak berlu terlalu tergantung pada pihak lain. Informasi, rekomendasi atau saran-saran hanyalah bersifat masukan sekunder semata, sementara keputusan dan keyakinan adalah atas dasar penilaian rasional dan objekti investor diri. Ini mencirikan dia adalah seroang yang ”terdidik”.
Kunci keberhasilan atau strategi investasi di pasar modal, dapat terhadi jika didahului dengan kerja keras. Jangan justru setelah mengalami kehabisan modal kemudian beranggapan bermain saham adalah pekerjaan yang sukar dan hilang kepercayaan diri atasnya.
Disampingn itu, high return high risk tetap penting dipahami, bandingkan misalnya investasi pada instrumen saham dan deposito. Risiko sebenarnya dapat dikontrol apabila kita memiliki kerangka acuan. Maksimalkan keuntungan jika keputusan kita benar, dan pada sisi lain batasilah kerugian jika kita salah. Cut your loss as soon as possible if you were wrong and let profit run if you right, demikian pak Soeratman berfalsafah.
Kemudian , aspek yang tidak kalah pentingnya adalah kedisiplinan atas formula objektif rasional yang dimiliki secara konsisten. Investasi seharusnya memiliki sentuhan strategi (investasi) sebagai acuan pedoman objektif dalam memenangkan permainan. Secara garis besar strategi terebut meliputi adanya “Perencanaan Portfolio”, memiliki alat dan bahan ”Analisis Investasi dan Ekonomi”, Checklist untuk ”Value Investing”, Checklist untuk ”Short erm Momentum Trading”
Kaitannya dengan pasar selanjutnya pak Soeratman, tidak ada seseorang yang dapat mendikte pasar, dan pada sisi lain pula tidak mungkin keputusan kita selalu benar . Dengan kata lain, dalam kondisi tertentu keadaan pasar dapat saja melawan keputusan kita, yang kondisi dan hasil bisa berbeda dari hasi perkiraan. Tetapi yang pasti, sangat penting untuk mengetahui bagaimana cara berinvestasi serta bagaiamana mengendalikan resiko selaras dengan strategi tadi.
Ada pendapat bahwa terdapat kaitan yang kuat antara pergerakan pasar modal dengan gerakan siklus ekonomi. Namun yang terjadi dalam praktek : Faktor-faktor spekulative menyebabkan pergerakan saham kadang-kadang tidak sejalan dengan pergerakan ekonomi. Saham biasanya bergerak lebih dulu dari ekonomi. Disinilah letaknya arti penting pentingnya mengetahui rumor yang mendahului informasi berita publikatif.
Biasanya dengan adanya gejolak ketidak stabilan tertentu akan ditanggapi dengan reaksi yang berlebihan oleh pasar. Pasar akan bereaksi lebih cepat terhadap sesuatu yang mungkin atau belum tentu terjadi.
Ketika ditanya oleh penanya (pialang dari Henan Putihrai) bagaimana kerangka objektif bagi ”pemain” dan kaitannya dengan kebiasaan umum yang menggunakan anailisa feeling disaat bermain di bursa ? Dalam membeli saham, selanjutnya pak Soeratman memberikan tips, perhatikan : Laporan Keuangan, Volume Transaksi, Harga Saham, dan Berbuatlah berdasarkan objektivitas, dan hindari anilisa berdasarkan Feeling. Kaitannya dengan nasabah (client) seorang pialang, dianjurkan agar apapun keputusan nasabah (investor) dalam memilih saham, jangan cegah mereka untuk jual beli. Idealnya investor-lah yang mengambil keputusan.
(Bersambung)
Disusun oleh :
Komite Pengembangan Organisasi IPEI,
Benas & Maya ;



0 comments:
Post a Comment